penDAHULUAN
Berkembangnya
arus sosial masyarakat saat ini, akhlak sering di kikiskan secara perlahan demi
keuntungan semata, hal ini dapat berdampak kepada calon generasi bangsa
berikutnya. Untuk itu di indonesia menerapkan pengajaran islami kepada para
calon generasi bangsa dengan memberikan wadah untuk menanamkan berkarakter
jiwa berakhlak.
Tpq alhasim
menjadi salah satu pilihan sekolah islam dalam menggeluti alqur’an yang terus
eksis di kemajuan pendidikan islami lainnya. Pengajaran yang di berikan kepada
anak menyesuaikan sesuai usia. Pengajar tpq menerapkan teori dramaturgi dan
melakukan komunikasi personal, komunikasi verbal dan non verbal. Melakukan
pendekatan yang dapat diterima oleh anak usia dini sehingga pesan islami yang
disampaikan dambil dengan meresap sampai terbentuk karakter baik.
Pendidikan
islami perlu di suapi di usia sedini mungkin untuk mengantisipasi kerukasakn
moral di masa mendatang bagi anak-anak. Degredasi moral yang terlihat saat ini
menjadi sebuah tantangan bagi orangtua dalam memberikan pengawasn terhadap anak
agar tidak terjerumus arus lingkungan dan perteanan yang salah.
Orang tua yang
menyekolahkan anak ke dunia formal tidak dalam agama akan terlihat saat anak
dewasa ketika menjalani tantangan sosial.
Pendidikan juga
harus memberikan dasar bagi keberlanjutan kehidupan bangsa dengan segala aspek
kehidupan yang mencerminkan karakter bangsa masa kini dan masa yang akan
datang.
Penelitian ini
menggunakan penelitian kualtatif dimana peneliti mengamati studi kasus yang
terjadi di lingkngan TPQ AlHasyim jongbiru terkait strategi pengajaran
komunikasi islam kepada anak usia dini, peneliti menggunakan konsep teori
dramaturgi yang dimana pengajar TPQ memainkan peran untuk menyampaikan pesan
agar di terima, mereka memasuki dunia anak-anak untuk memenuhi keinginan
emosional yang dirasakan. Penelitian ini dapat memunculkan teori lain yang
berkaitan dengan studi kasus ini. Dapat kita rumuskan rumusan masalah dalam
penelitian ini.
a. Apakah
efektif pengajaran komunikasi islam bagi anak usia dini di TPQ AlHasyim di
terima?
b. Peran
pengajar dalam menjalankan peran untuk mengajari anak TPQ AlHasyim?
- Definisi Operasional
Sebelum membahas lebih lanjut dalam penyusunan proposal ini dan
untuk menghindari kesalah fahaman terhadap judul skripsi ini, maka peneliti
perlu menguraikan istilah istilah yang di anggap penting.
1)
Komunikasi interpersonal
Komunikasi
interpersonal merupakan komunikasi yang bersifat dua arah untuk menciptakan
sebuah hubungan yang mendalam untuk menumbuhkan pengenalan karakter, pemenuhan
emosional, pembentukan pesan dan Kesan.
Beberapa pakar
dalam bidang komunikasi memberikan penjelasan tentang apa yang
dimaksud dengan komunikasi interpersonal, salah
satunya adalah Deddy Mulyana dalam bukunya yang
berjudul “Ilmu Komunikasi: suatu pengantar”. Mulyana (2000:
73) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal merujuk pada
interaksi antara individu yang saling
berhadapan, sehingga setiap peserta dapat secara langsung
merasakan reaksi dari orang lain, baik yang diungkapkan
melalui kata-kata maupun melalui isyarat yang tidak terlihat. Komunikasi
interpersonal ini mencakup hubungan yang
hanya melibatkan dua individu,
seperti pasangan suami-istri, rekan sejawat, sahabat
dekat, serta interaksi antara guru dan siswa[1]
2)
Strategi pembelajaran tpq alhasyim
Menurut Hamzah
B. Uno. (2012:
3) Strategi pembelajaran
adalah cara-cara yang aktif digunakan
oleh pengajar untuk
memilih kegiatan belajar
yang akan digunakan selama
proses pembelajaran. Pemilihan
pembelajaran tersebut
dilakukan dengan mempertimbangkan situasi
dan kodisi, sumber
belajar, kebutuhan, dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu[2], di TPQ
AlHasyim proses pembelajaran dari mulai pukul 15.30-17.00 dengan metode mengaji
secara berbaris urut untuk maju ke pengajar TPQ AlHasyim yang kemudian pengajar
memberikan soal secara tertulis seperti sambung lafadz huruf hijaiyyah,
pengulangan lafadz, sampai perhitungan matematika dasar. Itu semua untuk
membantu siswa mengulang pelajaran yang dipelajarinya.
BAB II
Kajian
Pustaka
1.
Strategi pembelajaran tpq
Lembaga pendidikan Al-Qur’an seperti TPQ memainkan
peranan yang
sangat penting dalam kemajuan pendidikan agama. Keberadaan
lembaga ini memberikan kontribusi besar dalam membentuk moral dan
akhlak generasi masa depan, menjadikannya elemen
esensial dalam pembentukan karakter anak
sejak usia dini. Jangkauan TPQ amat luas, menjangkau dari area
kota hingga daerah terpencil. Hampir di setiap masjid atau
langgar umumnya terdapat TPQ yang berfungsi sebagai tempat untuk
belajar membaca Al-Qur’an, menghafal doa harian, mengingat ayat-ayat pendek,
serta menerapkan cara yang tepat untuk
berwudhu dan melaksanakan sholat[3].
Proses Pembelajaran di kelas
memiliki keterkaitan yang erat
antara guru, siswa, kurikulum,
sarana danprasarana. Seorang
guru harusbisamemilih starategi pembelajaran
yang tepat sesuai
dengan materi yang
disampaikandi dalam proses pembelajaran demi tercapainya
tujuan pendidikan[4]
Di tpq AlHasyim proses pengajaran yang disampaikan oleh para
ustadzah dan ustad memainkan ketertiban dan keaktivan para siswa, para pengajar
tidak akan segan untuk memberikan penegasan kepada siswa yang merasa membuat
kegaduhan saat pengajaran, dengan Bahasa yang mendidik agar tertanam dalam jiwa
siswa. Siswa TPQ AlHasyim tergolong dari berbagai jenjang usia dimulai dari
usia PAUD, TK, dan SD.
Melihat beragamnya usia siswa di TPQ ibu Siti Muti’ah selaku ketua
Taman Pendidikan Qur’an menerapkan metode variative dalam lembaganya, agar para
siswa tidak merasa jenuh untuk mempelajari ilmu Alqur’an yang sebagai
dasar-dasar ajaran islam. Menurut
Thohirin, dalam belajar siswa sering
mengalami kelupaan, ia
juga terkadang mengalami peristiwa
negatif lainnya yang
disebut jenuh belajar yang dalam
bahasa psikologi lazim disebut learning
plateau. Saat kondisi jenuh siswa
yang notabe masih dibawah umur, kejenuhan saat belajarmembuat akalnya tidak
dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan dalam memproses item-item
informasi atau pengalaman
baru.
Sistem pengajaran dibagi menjadi dua
sesi, sesi awal dimulai pukul 15.30 WIB yang dipenuhi oleh siswa TK yang belum
memasuki Madrasah Diniyah siang hari, dan sesi kedua berisi SD dari kelas 1
sampai 6 setelah selesai Madrasah Diniyah. Siswa yang masuk sesi pertama
diberikan modul pengajaran IQRO untuk melatih pengejaan daya hafal huruf
hijaiyyah, diberikan sistem soal tulis tentang pengulangan huruf, penebalan
huruf, sambung huruf dan membaca surat-surat pendek juz 30 sampai penghitungan
dasar-dasar. Pembinaan kelompok sesi awal untuk memahami nilai-nilai dasar
islam seperti praktek doa-doa pendek, bersuci, wudhu, dan sholat. Sedangkan
siswa sesi akhir tidak diberikan metode soal hanya sorogan mengaji AlQur’an
dari mulai juz 1 sampai selesai dengan pengajaran bacaan-bacaan AlQur’an
seperti izhar, idghom, iqlab, mad dll. Dan sudah banyak siswa yang telah
mencetak tahfidz 30 juz binnadzri.
Pada aliran komunikasi yang bersifat dua
arah, yang dimaksud komunikasi interpersonal adalah interaksi pribadi
yang menempatkan pengirim pesan dan penerima dalam posisi
yang setara, sehingga memicu pola penyebaran informasi mengikuti
arus dua arah. Antara pengirim dan penerima pesan dapat dengan
cepat berganti peran. Selain itu, tingkat umpan balik
juga cukup tinggi, ini terjadi karena komunikasi antarpribadi
umumnya mempertemukan orang-orang secara langsung, sehingga
respon terhadap pesan yang disampaikan bisa segera
diperoleh dari penerima, baik melalui
kata-kata maupun isyarat nonverbal[5].
Beberapa masalah yang dialami siswa kadang-kadang
dapat diselesaikan lebih mudah dengan membangun komunikasi yang
baik antara guru dan siswa. Tujuan dari komunikasi
interpersonal ini adalah untuk menyusun hubungan yang lebih
dalam dalam pembentukan identitas diri dan
pengembangan karakter yang positif.
[1] Novita Rahmawati dkk., “Model Komunikasi
Interpersonal Guru dan Siswa Pada Lembaga Pendidikan Non Formal Primagama KM10
Palembang,” Jurnal Psikologi 1, no. 4 (2024): 1–12,
https://doi.org/10.47134/pjp.v1i4.3162.
[2] “2611-Article Text-8775-1-10-20220706.pdf,” t.t.
[3] Sarno Hanipudin dkk., “Pendampingan Pengajaran
Baca Tulis Al-Qur’an Bagi Santri TPQ Desa Segaralangu,” al madani 2, no.
2 (2023): 14–21, https://doi.org/10.37216/al-madani.v2i2.1107.
[4] ADDIN ZOTERO_ITEM CSL_CITATION
{"citationID":"cd7Ontvp","properties":{"formattedCitation":"\\uc0\\u8220{}2611-Article
Text-8775-1-10-20220706.pdf.\\uc0\\u8221{}","plainCitation":"“2611-Article
Text-8775-1-10-20220706.pdf.”","noteIndex":4},"citationItems":[{"id":1613,"uris":["http://zotero.org/users/local/W8F05cRY/items/7I56LSC2"],"itemData":{"id":1613,"type":"document","title":"2611-Article
Text-8775-1-10-20220706.pdf"}}],"schema":"https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json"}
“2611-Article Text-8775-1-10-20220706.pdf.”
[5] Rahmawati dkk., “Model Komunikasi Interpersonal
Guru dan Siswa Pada Lembaga Pendidikan Non Formal Primagama KM10 Palembang.”
Comments
Post a Comment