perjalanan Mahasiswi Bergaris Santri

 Perjalanan mahasiswi bergaris santri


Kediri-pagi itu selasa 25 November 2025 matahari bersinar terang membawa kecerian bagi setiap insan di muka bumi, anisa jelyanti yang kerap di sapa jely membuka lembaran bait karya Imam Malik untuk persiapan setoran pondok di gedung tempat menggali ilmu dunia.

 

Jely asal Merauke seorang mahasiswi yang berstatus santri di Pondok Pesantren Almahrusiyah Lirboyo sejak tahun 2021 di jenjang pendidikan Madrasah Aliyah, keinginan terbesarnya ialah menuntaskan masa belajar agama di pondok tua merupakan suatu penghormatan di kampung halamannya, sehingga ia pun memutuskan melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Islam Tribakti Kediri di masa penantian tamat belajar agama di pondok pesantren Lirboyo. 

 

Pilihan S1 di Universitas Islam Tribakti Kediri melihat yang masih satu naungan pendiri yang berasal dari Lirboyo, yakni KH. Mahrus Ali. Melihat itu pihak kampus memahami keadaan mahasiswa yang didominasi pondok pesantren dengan memberi waktu yang fleksibel. "tujuanku disini memang tamat Lirboyo, kampus di tribakti sebagai jalan untuk santri yang ingin berkarya di dunia modern karena memberikan waktu yang fleksibel terhadap santri"ucap jely.

 

Perjalanannya sebagai santri sekaligus mahasiswi, tentu bukanlah sebuah hal yang mudah. Ia kerap kali mendapati keluhan diantara keduanya, yakni hafalan pondok dan tugas kuliah yang sering kali bertabrakan. Ketika saat momen-momen penting di pondok pesantren jely menyelesaikan kewajibannya sebagai santri seperti setor hafalan, nembel kitab dan ujian madrasah di saat waktu senggang kuliah tanpa harus meninggalkan aktifitas kampus. Dengan usahanya Jely pada ujian madrasah diniyah di pondok semester ganjil berhasil menduduki sepuluh besar.

 

Dalam wawancara nya jely masih seringkali mengalami hambatan dalam menjalani tugas kuliah karena peraturan pondok dalam memberikan akses yang sangat minim. Meski begitu, Jely tetap menjalankan aktifitas dengan semangat dan aktif di beberapa komunitas mahasiswa yang diikuti hingga meraih beasiswa seribu dai yang diselenggarakan oleh bank BNI.

 

Meski dengan hambatan demikian, ia ingin menunjukkan bahwa seorang mahasiswi bernotabe santri bukan hanya belajar ilmu agama melainkan dapat berpikir logis dan eksis di perkembangan zaman. Sehingga ia dapat memberi kemanfaatan bagi dirinya dan lingkungan sekitar. 

 

Penulis: Nila Lulu Husniyah 

Karya  : Feature

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Meneladani Perempuan Tangguh di Zaman Rosulullah Bersama Ning Etna Iyyaa Miskiyah

Cinta Tanah Air dan Maulid Nabi dalam Talkshow Tsaqifa bersama Ning Hafshah Kaffa dan Ning Royya Kaffa dari Pondok Pesantren Lirboyo

Pondok Pesantren Lirboyo menjadi framing negatif media Trans7