Broken Strings: Kisah Aurelie Sembuh dari Traumanya
"Namaku Aurelie. Ikuti aku kembali ke tempat dan waktu yang membentuk diriku, bahkan pada momen-momen yang dulu sempat ingin ku lupakan".
.
*Dari Senar yang Putus, Aurelie Belajar Bersua dengan Luka*
“Namaku Aurelie. Ikuti aku kembali ke tempat dan waktu yang membentuk diriku, bahkan pada momen-momen yang dulu sempat ingin kulupakan.”
Kalimat itu membuka Broken Strings, karya Aurelie yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan sekadar buku, Broken Strings adalah ruang pengakuan—tentang masa remaja yang tercerabut, tentang luka yang lama dikubur, dan tentang keberanian seorang perempuan untuk akhirnya bersuara.
Kisah Aurelie bermula ketika usianya baru menginjak 15 tahun. Ia datang ke Bandung, tanah kelahiran orang tuanya, untuk mengikuti sebuah kompetisi pencarian bakat. Tak disangka, Aurelie keluar sebagai juara. Pintu industri hiburan pun terbuka. Namun, di balik gemerlap itu, sebuah relasi yang timpang perlahan menjerat hidupnya.
Di usia yang belum dewasa secara hukum maupun psikologis, Aurelie menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang usianya terpaut jauh—Boby. Hubungan itu bukan cerita cinta remaja seperti dalam sinetron. Ia menjadi awal dari rangkaian pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Padahal, menjadi model atau aktris bukanlah cita-citanya. Aurelie bermimpi menjadi dokter—cara paling sederhana yang ia bayangkan untuk mengangkat derajat keluarga dan membanggakan kedua orang tuanya. Namun takdir berbelok. Ia justru harus menanggung rasa bersalah karena merasa mengecewakan kepercayaan orang tua, saat dirinya terjerat relasi yang diwarnai manipulasi, kekerasan seksual, hingga pernikahan yang ia gambarkan “lebih menyerupai peran binatang daripada manusia.”
Bertahun-tahun, Aurelie hidup seperti boneka. Ia patuh, diam, dan menekan perasaannya. “Monster” yang ia takuti ternyata bukan sosok nyata, melainkan bayangan ketakutan yang tumbuh dari relasi abusif. Hingga suatu titik, Aurelie menyadari: diam bukan jalan keluar, tapi jalan menuju tenggelam lebih dalam.
Dengan dukungan kedua orang tuanya, ia mulai bersuara lewat tulisan di media sosial. Namun harapan akan empati berbalik menjadi gelombang trauma baru. Alih-alih dukungan, ia justru menghadapi penghakiman.
Hingga suatu hari, ia bertemu seseorang yang mengajaknya menulis—bukan untuk sensasi, melainkan sebagai cara mengendalikan emosi dan meredam luka. Dari buku harian yang penuh tangis dan amarah, lahirlah Broken Strings. Awalnya dalam bentuk e-book berbahasa Inggris, sebagai pagar agar kisahnya tak dibaca sembarang orang.
Namun respons pembaca justru datang tanpa diduga. Pesan-pesan pribadi di Instagram berdatangan. Banyak yang mengaku mengalami hal serupa. Banyak pula yang meminta versi bahasa Indonesia.
“Aku akhirnya mengeluarkan versi bahasa Indonesia dan responsnya luar biasa,” ujar Aurelie dalam klarifikasi wawancara di akun TikTok @yanglagiviral.
“Banyak banget yang kebantu. Banyak yang nggak jadi mengakhiri hidupnya karena buku aku. Banyak orang tua yang sekarang jadi mendengarkan anaknya. Banyak guru yang membaca dan menjadikannya pelajaran. Aku happy banget.”
Bagi Aurelie, kebahagiaan itu bukan soal popularitas, melainkan tentang harapan: agar perempuan yang mengalami kekerasan mendapatkan keadilan dan tidak lagi merasa sendirian.
“Banyak korban kekerasan seksual memilih diam bukan karena mereka lemah, tetapi karena relasi kuasa, rasa takut, dan budaya menyalahkan korban,” jelas Amalia. “Ketika penyintas berani bercerita, itu bukan membuka luka lama, melainkan mengembalikan kendali atas tubuh dan kisah hidupnya sendiri.”
kisah seperti Broken Strings memiliki fungsi edukatif yang kuat. Ia membuka mata orang tua, guru, dan masyarakat bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga manipulasi emosional yang kerap disamarkan atas nama cinta.
Tidak semua orang mampu menceritakan masa kelamnya. Sebagian memilih melupakan, menghapus, atau mengubur ingatan itu sedalam mungkin. Aurelie memilih jalan lain: berdamai.
Ia tidak mengklaim telah sepenuhnya sembuh. Namun ia belajar menerima apa yang terjadi sebagai bagian dari proses pendewasaan. Tanpa menutupi diri, tanpa menyangkal luka, dan tanpa membiarkan masa lalu menentukan masa depan.
Seperti senar yang putus, nadanya memang tak lagi sama. Namun dari keheningan itu, Aurelie menemukan suara baru—lebih jujur, lebih berani, dan lebih manusiawi.
Comments
Post a Comment