Review Jurnal

Nama : Nila Lulu Husniyah 
NPM.  : 230301097
Tugas.: review Jurnal 

Judul Jurnal.  : Media dalam Membangun Dialog Antarbudaya di Era Globalisasi 
Nama penulis : Amalia Rosyadi, Moch.Muwaffiqillah
Nama jurnal    : Jurnal Kopis
Tahun dan hal.: 2025 vol 8(1) halaman 1-8
DOI                   : 10.33367

1. Keterangan umum
Tujuan penelitian untuk menganalisa media Instagram sebagai ruang digital untuk memberikan tempat pertukaran dan pemahaman antar budaya, pembentukan indentitas dalam masyarakat multikultural. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, karena pemahaman makna dan pesan yang dikomunikasikan lewat media Instagram. Hasil yang didapati dari penelitian tersebut bahwa Instagram tidak hanya berperan sebagai hiburan dengan konten-konten lucu melainkan dapat menjadi medium ruang publik digital untuk berkontribusi Antarbudaya terhadap nilai toleransi dan literasi keislaman. Peneliti mengangkat publik figur terkenal yaitu Ustadz Abdul Solmed @ustadzabdulsolmed_official, Ustadz Hanan Attaki @hanan_attaki, dan akun @felixisiauw sebagai objek analisis melihat ketiga publik figur tersebut sebagai komunikator yang dapat mempengaruhi audies global dalam memandang sudut keagamaan. Data yang dikumpulkan oleh peneliti diambil dari dari dokumen ungguhan visual, cerita pendek, kutipan ceramah, caption atau narasi dan interaksi kolom komentar.

2. Pembahasan 
Instagram menjadi media yang efektif untuk mengenalkan budaya dan keberagaman kepada masyarakat luas. Penayangan visual yang menarik dalam sebuah budaya dengan memberikan narasi dan caption edukatif yang mudah dipahami akan membantu sebuah nilai, makna dalam budaya tersebut. Pengenalan budaya di masyarakat luas akan lebih banyak dikenal dan diketahui untuk diakses tanpa ada batasan ruang dan waktu. Eksistensi budaya yang di tampilkan di Instagram akan meninggalkan jejak digital yang dapat di ketahui oleh generasi yang akan datang.

Adanya fitur siaran langsung, kolom komentar dan penggunaan tagar menjadi ruang dialog antarbudaya atau antar komunitas dari berbagai latarbelakang yang berbeda. Adanya interaksi yang terjadi akan memunculkan sikap ketertarikan dan pemahaman satu sama lain, sehingga memperkuat toleransi dalam masyarakat majemuk.

Secara mudah dipahami Instagram menjadi dorongan terbentuknya identitas digital, majemuk, dan fleksibel. Masyarakat luas dapat melihat seluruh budaya sebagai suatu yang dinamis dan dapat menghubungkan koneksi solidaritas antar budaya di era globalisasi.

Praktik yang sudah ditetapkan dalam pembahasan toleransi lintas budaya terdapat beberapa publik figur yang berpengaruh besar di masyarakat. Pembawaan yang disajikan dalam mengedukasi audien terkait lintas budaya. Masing-masing figur memilik gaya dan pembawaan berbeda-beda.
1. Ustadz Solmed @ustadzsholmed_official
Ustadz Solmed memiliki pola dakwah yang menekankan otoritas keilmuan dan pembenaran religi. Konten yang disajikan berupa potongan - potongan ceramah, kutipan tausyiah dan penjelasan yang bersumber dalil Al-Qur'an dan hadits. Strategi yang dipilih media Instagram sebagai penyebaran atau pembagian ilmu keislaman. Dalam konteks lintas budaya komunikator memberi penguatan literasi keagamaan dengan bahasa yang logis dan argumentatif, sekaligus membangun kredibilitas dan eksistensi komunikator.

2. Ustadz Hanan Attaki @hanan_attaki
Visual yang di tampilkan bersifat adaptif, persuasif dan ringan dipahami, khususnya generasi muda. Pendekatan yang dibawakan dalam menyampaikan gagasan keagamaan dan lintas budaya dengan pendekatan yang inklusif melibatkan berbagai pihak dan memberikan kesempatan setiap orang sehingga audiens mengikuti dengan pembawaan masing-masing tanpa adanya deskriminasi. Kontennya mudah untuk di akses di berbagai komunitas dengan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda.

3. Felix @felixisiauw
Seorang figur mualaf yang kini kental religius, latar belakang budaya yang berseberangan telah dialami sehingga pendekatan yang dilakukan  pendekatan naratif dan reflektif dengan mengaitkan kepada isu sosial, indentitas, dan dinamika kehidupan modern. Diseminasi melalui ruang diskusi untuk menyadarkan dan berdialog secara ideologis, dan adanya  pertukaran pandangan penggunaan akun dalam ruang publik.

Kesimpulan dan Saran
Media Instagram merubah ruang media sosial menjadi ruang publik digital. Setiap orang dapat mengakses identitas yang selaras dengan budayanya. Sebagai contoh masyarakat Bugis akan memposting makanan tradisional, baju adat, bahasa untuk mendapat pengakuan dan eksistensi terhadap budaya tersebut. 

Beragamnya perbedaan geografis dan serba multikultural pesan dakwah tetap harus tetap berlanjut dipahami di berbagai kalangan. Para pendakwah modern saat ini tidak hanya tampil di khutbah masjib- masjid melainkan peka terhadap perubahan globalisasi yang terus maju. 

Ketiga figur memanfaatkan media sosial Instagram tidak hanya sarana hiburan dan sosial melainkan sebagai sarana pesan dakwah yang luas penggunaan media sosial. Ketiga nya memiliki pendekatan yang berbeda namun berkontribusi dalam penguatan nilai toleransi dan literasi keislaman dalam masyarakat multikultural. Instagram sebagai ruang publik digital yang memfasilitasi dialog secara privat maupun global terlebih lintas budaya di era globalisasi. Memanfaatkan Instagram sebagai medium komunikasi dakwah yang adaptif terhadap konteks Globalisasi, sekaligus relevan dalam membangun dialog antar komunitas di ruang digital dengan pandai memilih dan memilah sebagai lawan untuk berkontribusi. 

Berdasarkan pembahasa diharapkan pihak peneliti untuk meningkatkan upaya berkelanjutan guna menemukan titik sudut yang lebih optimal di masa mendatang. Penelitian ini sangat bermanfaat bagi kalangan aktivis khusus nya komunitas komunikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dapat menjadi rujukan awal peneliti selanjutnya dalam mengkaji Media sebagai sarana diseminasi lintas budaya.


4. Kekurangan 
1. Metodologi lemah karena tidak ada wawancara dengan publik figur terkait atau terhadap jama'ah atau pengikut kajian tersebut.
2. Kurang signifikan dalam memaparkan kekurangan dan kelebihan setiap pendakwah tersebut dalam pemilihan strategi dan pendekatan.
3. Akan lebih jelas bila memaparkan komentar atau interaksi publik dengan figur tersebut.

5. Keunggulan 
1. Memilih publik figur yang tepat dalam memberikan literasi dan jalan bagi para masyarakat modern.
2. Meningkatkan literasi masyarakat homogen dalam memandang pemahaman keagamaan untuk mengutamakan nilai toleransi dan kontribusi antarbudaya dan pendidikan multikultural di negara Indonesia yang beragam perbedaan.
3. Menyadarkan masyarakat bahwa media sosial Instagram bukan sekedar interaksi sosial atau sarana eksistensi identitas, melainkan ruang untuk diseminasi terkait ilmu ataupun ajakan amar ma'ruf nahi mungkar. 
4. Fitur Instagram dengan adanya visual, caption, narasi, MP3 yang menarik memicu interaktif dan emosional audiens.
5. Penyajian konten yang dibutuhkan masyarakat, adaptif, afirmatif dan meningkatkan emosional audiens untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.

Comments

Popular posts from this blog

Meneladani Perempuan Tangguh di Zaman Rosulullah Bersama Ning Etna Iyyaa Miskiyah

Cinta Tanah Air dan Maulid Nabi dalam Talkshow Tsaqifa bersama Ning Hafshah Kaffa dan Ning Royya Kaffa dari Pondok Pesantren Lirboyo

Pondok Pesantren Lirboyo menjadi framing negatif media Trans7